05/04/15

TUGAS 1 SOFTSKILL : PERKEMBANGAN AKUNTANSI DI USA

A. Perkembangan Akuntansi di Amerika Serikat
 
Akuntansi di AS diatur oleh Badan Sektor Swasta (Badan Standar Akuntansi Keuangan, atau Financial Accounting Standards Boardi – FSAB), namun sebuah lembaga pemerintah (Komisi Pengawas Pasar Modal atau Securities Exchange Commission – SEC) juga memiliki kekuasaan untuk menerapakan standarnya sendiri.
Hingga tahun 2002 Institut Amerika untuk Akuntan Publik bersertifikat, badan sektor swasta lainnya, menetapkan Standar Auditing. Pada tahun itu Badan Pengawas Akuntansi Perusahaan Publik didirikan dengan kekuasaan yang luas untuk mengatur audit dan auditor perusahaan publik. Di Amerika Serikat , dilakukan pengujian dan analisa pada prinsip dan teori akuntansi yang berkembang melalui 4 fase yakni :
 
1. Fase Kontribusi Manajemen (1900-1933)
Pengaruh manajemen dalam pembentukan prinsip-prinsip akuntansi muncul dari meningkatnya jumlah pemegang saham dan peranan ekonomik dominan yang dimainkan oleh korporasi industri setelah 1900. Ketergantungan pada inisiatif manajemen menimbulkan konsekuensi sbb: Sebagian besar teknik akuntansi tidak memiliki dukungan teoritis, Pusat perhatian pada penentuan penghasilan kena pajak dan minimisasi pajak penghasilan, Teknik yang diadopsi adalah untuk meratakan pendapatan, Penghindaran dari masalah-masalah kompleks dan solusi berdasarkan kebijakan dianut, Perbedaan perlakuan teknik akuntansi dari perusahaan yang berbeda untuk masalah yang sama.
Perdebatan teoritis dan kontrofersi pada saat itu terutama menyangkut akuntansi kos untuk bunga.
Penentuan biaya overhead dalam kos produk menjadi isu utama seiring dengan alokasi kos produk yang realistis, meningkatnya investasi pada mesin-mesin dan kebutuhan modal untuk jangka panjang. Pendapat The American Institute of Accountants (AIA) menentukan bahwa tidak ada kos penjualan, beban bunga dan biaya administrasi yang dimasukkan dalam kos overhead pabrik. Perselisihan tentang akuntansi kos bunga dipandang sebagai konflik antara teori entitas (entity) dan kepemilikan (proprietary).
Peristiwa penting lain adalah pengaruh pajak penghasilan terhadap teori akuntansi yakni diakuinya pendapatan bersih atas dasar periode akuntansi dan metode akuntansi yang digunakan oleh pembukuan wajib pajak. Hal ini merupakan tahap awal harmonisasi antara akuntansi pajak dengan akuntansi keuangan.
 
2. Fase Kontribusi Institusi (1933-1959)
Fase ini ditandai dengan timbulnya badan/institusi dan peningkatan peranannya dalam pengembangan prinsip akuntansi, sbb:
1. Tahun 1934 Kongres membentuk Securities and Exchange Commision (SEC) untuk melaksanakan berbagai peraturan investasi federal. Komisi ini dapat merumuskan hal-hal, informasi, metode-metode, yang harus ditunjukan dalam laporan keuangan.
2. Adanya usulan agar The American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) mulai melakukan kerjasama dengan bursa saham sehingga standar yang ditetapkan dalam laporan keuangan dapat sesuai dengan eksekutif perusahaan dan akuntan sesuai dengan praktek yang ada.
Setelah berdirinya American Accounting Association (AAA) yang banyak mengkritik SEC maka AICPA memutuskan untuk memberdayakan Committee Accounting Procedure (CAP) menerbitkan Accounting Research Bulletins (ARBs). Adanya praktek-praktek akuntansi yang banyak dikritik, isu-isu yang tidak populer, kegagalan untuk mengembangkan pernyataan menyeluruh tentang prinsip akuntansi menyebabkan konflik antara SEC dengan CAP.
 
3. Fase Kontribusi Profesional (1953-1973)
Komite Khusus tentang Program Riset mengusulkan pembubaran CAP dan departemennya yang diterima oleh AICPA kemudian didirikan Accounting Principle Board (APB) dan The Accounting Research Division (ARD) untuk meneliti isu-isu yang merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum. APB kemudian menerbitkan berbagai pendapat untuk membahas isu-isu kontroversial , namun upaya tersebut tidak berhasil sehingga APB diserang dan dikritik karena opini yang bersifat kontroversial termasuk tentang akuntansi pensiun, alokasi pajak penghasilan, kredit pajak investasi, akuntansi untuk penggabungan usaha dan goodwill.
 
4. Fase Politisasi (1973-sekarang)
Keterbatasan asosiasi professional dan manajemen dalam merumuskan teori akuntansi mendorong diadopsinya pendekatan yang lebih deduktif dan politis. Dalam situasi tersebut FASB mengindikasikan proses penetapan standar akuntansi sebagai proses demokratik.
 
B. Kualifikasi dan regulasi di bidang akuntansi
 
Di Amerika Serikat, akuntan yang berpraktek disebut Certified Public Accountant (CPA), Certified Internal Auditor (CIA) dan Certified Management Accountant (CMA). Perbedaan jenis sertifikasi adalah dalam hal jenis-jenis jasa yang ditawarkan
Sertifiksi
Dikeluarkan Oleh
Keterangan Lain
CPA
negara bagian tempat kedudukan yang bersangkutan berupa ijin untuk menawarkan jasa auditing kepada public
Kebanyakan kantor akuntan juga menawakan jasa akuntansi, perpajakan, bantuan litigasi dan konsultansi keuangan lainnya.
CIA
Institute of Internal Auditors (IIA)
Diberikan kepada kandidat yang lulus dalam empat bagian ujian.
CMA
Institute of Management Accountants (IMA)
Diberikan kepada kandidat yang dinyatakan lulus dalam empat bagian ujian dan memenuhi pengalaman praktek tertentu berdasarakan ketentuan IMA
Badan standar akuntansi di Amerika Serikat
Badan Standar Akuntansi di AS
Penjelasan
American Institute of Certified Public Accountants
Suatu organinsasi profesional di bidang akuntansi publik yang keanggotaannya hanya akuntan publik terdaftar (certified public accountants). Organisasi ini menerbitkan jurnal bulanan The journal of accountancy dan berpengaruh kuat bagi perkembangan prinsip-prinsip akuntansi serta norma pemeriksaan di AS.
Financial Accounting Standards Board
Organisai yang memberikan panduan standar untuk pelaporan keuangan. Misi dari FASB adalah untuk membangun dan meningkatkan standar akuntansi keuangan dan pelaporan untuk bimbingan dan pendidikan masyarakat, termasuk emiten, auditor dan pengguna informasi keuangan.
Governmental Accounting Standards Board (Dewan standar akuntansi pemerintahan)
Securities and Exchange Commission
Lembaga independen pemerintah AS yang memegang tanggung jawab utama menegakkan hukum federal efek dan mengatur industri efek, pasar saham dan bangsa pilihan bursa, dan efek elektronik lainnya.
 
C. Standar Akuntasi Keuangan (SAK) Di Amerika
Dalam akuntansi terapan di Indonesia kita mengenal yang namanya SAK (Standar Akuntansi Keuangan), di Amerika lebih dikenal dengan nama GAAP (General Accepted Accounting Principal.
 
1. Perkembangan GAAP (General Accepted Accounting Principal)
Standar Akuntansi secara historis telah ditetapkan oleh American Institute of Certified Akuntan Publik (AICPA) tunduk pada Securities and Exchange Commission peraturan. The AICPA pertama kali membuat Komite Prosedur Akuntansi pada tahun 1939, dan diganti bahwa dengan Prinsip Akuntansi Dewan pada tahun 1951 . Pada tahun 1973, Dewan Prinsip Akuntansi digantikan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (FASB) di bawah pengawasan Yayasan Akuntansi Keuangan dengan Standar Akuntansi Keuangan Dewan Pertimbangan. Organisasi-organisasi lain yang terlibat meliputi Dewan Standar Akuntansi Pemerintahan (GaSb), terbentuk tahun 1984, dan Perusahaan Publik Akuntansi Dewan Pengawas (PCAOB). Sebagai internasional dan US GAAP standar telah berkumpul, maka Dewan Standar Akuntansi Internasional yang memproduksi Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) telah menjadi penting
Sekitar tahun 2008, FASB mengeluarkan Standar Akuntansi FASB Kodifikasi, yang menata ulang ribuan GAAP pernyataan AS ke sekitar 90 topik akuntansi.
Pada tahun 2008, Komisi Sekuritas dan Bursa mengeluarkan “peta jalan” awal yang dapat memimpin AS untuk meninggalkan prinsip akuntansi yang berlaku umum di masa depan (akan ditentukan pada tahun 2011), dan untuk bergabung lebih dari 100 negara di seluruh dunia bukan dalam menggunakan yang berbasis di London Standar Pelaporan Keuangan Internasional. Pada 2010, proyek konvergensi sedang berlangsung dengan pertemuan rutin FASB dengan IASB.
Untuk dan negara pemerintah daerah, GAAP ditentukan oleh Dewan Standar Akuntansi Pemerintahan (GaSb), yang beroperasi di bawah seperangkat asumsi, prinsip, dan kendala, berbeda dengan PSAK sektor swasta standar. Ketentuan GAAP AS agak berbeda dari Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS), meskipun mantan Ketua SEC Chris Cox menetapkan jadwal bagi semua perusahaan AS untuk menjatuhkan GAAP pada tahun 2016, dengan perusahaan terbesar beralih ke IFRS pada awal 2009.
 
2. Organisasi-organisasi ini mempengaruhi perkembangan GAAP di Amerika Serikat.
 a. United States Securities and Exchange Commission ( SEC )/Amerika Serikat Komisi Sekuritas dan Bursa.
SEC diciptakan sebagai akibat dari Depresi Besar .. Pada waktu itu tidak ada struktur menetapkan standar akuntansi. SEC mendorong pembentukan badan standar pengaturan swasta melalui AICPA dan kemudian FASB , percaya bahwa sektor swasta memiliki pengetahuan yang tepat, sumber daya, dan bakat. SEC bekerja sama dengan berbagai organisasi swasta pengaturan GAAP,tetapi tidak menetapkan GAAP sendiri.
 b. American Institute of Certified Public Accountants (AICPA)
Pada tahun 1939, mendesak oleh SEC, AICPA menunjuk Komite Akuntansi Prosedur (CAP). During the years 1939 to 1959 CAP issued 51 Accounting Research Bulletins that dealt with a variety of timely accounting problems. Selama tahun 1939-1959 CAP diterbitkan 51 Akuntansi Buletin Penelitian yang berurusan dengan berbagai masalah akuntansi yang tepat waktu. Tahun 1959, AICPA menciptakan Prinsip Akuntansi Board (APB), yang misi itu adalah untuk mengembangkan suatu kerangka kerja konseptual secara keseluruhan. Ini diterbitkan 31 pendapat dan dibubarkan pada tahun 1973 karena kurangnya produktivitas dan kegagalan untuk bertindak segera. Setelah penciptaan FASB , AICPA membentuk Komite Eksekutif Standar Akuntansi (AcSEC). Hal ini menerbitkan: Audit dan Pedoman Akuntansi, Laporan Posisi,Praktek Buletin
 c. Financial Accounting Standards Board (FASB), Tahun 1984 FASB menciptakan Emerging Issues Task Force (EITF)
 d. Dewan Standar Akuntansi Pemerintahan (GaSb) dibuat tahun 1984, membahas masalah-masalah pemerintah negara bagian dan lokal pelaporan.
 e. Organisasi lain berpengaruh (misalnya Ikatan Akuntan Amerika, Ikatan Akuntan Manajemen, Keuangan Lembaga Eksekutif).
 f. Organisasi berpengaruh lainnya Keuangan Pemerintah Officer’s Association (GFOA)
 
D. Laporan Keuangan Amerika serikat
Ada 8 Tipe Komponen Laporan Keuangan di Amerika :
1) Lap Manajemen 
2) LapAuditor Independen 
3) Lap Keuangan Primer 
4) Diskusi manajemen dan analisis hasil operasional dan kondisi keuangan 
5) Penjelasan mengenai kebijakan akuntansi dengan dampak yang paling kritis pada laporan keuangan 
6) Catatan atas laporan keuangan 
7)Perbandingan data keuangan selama 5 atau 10 tahun 
8) Data triwulan terpilih
 
 

14/01/15

Tugas 5 : Strategi dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean

MEA  merupakan bentuk realisasi dari tujuan akhir integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Terdapat empat hal yang akan menjadi fokus MEA pada tahun 2015 yang dapat dijadikan suatu momentum yang baik untuk Indonesia.
Pertama, negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Dengan terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi maka akan membuat arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan skilled labour menjadi tidak ada hambatan dari satu negara ke negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.
Kedua, MEA akan dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi, yang memerlukan suatu kebijakan yang meliputi competition policy, consumer protection, Intellectual Property Rights (IPR), taxation, dan E-Commerce. Dengan demikian, dapat tercipta iklim persaingan yang adil;  terdapat perlindungan berupa sistem jaringan dari agen-agen perlindungan konsumen; mencegah terjadinya pelanggaran hak cipta; menciptakan jaringan transportasi yang efisien, aman, dan terintegrasi; menghilangkan sistem Double Taxation, dan; meningkatkan perdagangan dengan media elektronik berbasis online.
Ketiga, MEA pun akan dijadikan sebagai kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi yang merata, dengan memprioritaskan pada Usaha Kecil Menengah (UKM). Kemampuan daya saing dan dinamisme UKM akan ditingkatkan dengan memfasilitasi akses mereka terhadap informasi terkini, kondisi pasar, pengembangan sumber daya manusia dalam hal peningkatan kemampuan, keuangan, serta teknologi.
Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global. Dengan dengan membangun sebuah sistem untuk meningkatkan koordinasi terhadap negara-negara anggota. Selain itu, akan ditingkatkan partisipasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada jaringan pasokan global melalui pengembangkan paket bantuan teknis kepada negara-negara Anggota ASEAN yang kurang berkembang. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan industri dan produktivitas sehingga tidak hanya terjadi peningkatkan partisipasi mereka pada skala regional namun juga memunculkan inisiatif untuk terintegrasi secara global.
Berdasarkan ASEAN Economic Blueprint, MEA menjadi sangat dibutuhkan untuk memperkecil kesenjangan antara negara-negara ASEAN dalam hal pertumbuhan perekonomian dengan meningkatkan ketergantungan anggota-anggota didalamnya. MEA dapat mengembangkan konsep meta-nasional dalam rantai suplai makanan, dan menghasilkan blok perdagangan tunggal yang dapat menangani dan bernegosiasi dengan eksportir dan importir non-ASEAN.
Bagi Indonesia sendiri, MEA akan menjadi kesempatan yang baik karena hambatan perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan eskpor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia.
Apakah Job Seeker atau Job Creator ?
Indonesia pada tahun 2015 akan memasuki MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), hal ini saya sebagai mahasiswa fresh graduated pastinya memilih untuk menjadi Job seeker terlebih dahulu. Pada keinginan yang lebih dalam sebenarnya yang saya inginkan adalah menjadi job creator namun banyak pengetahuan dan modal yang belom saya punya untuk mewujudkan keinginan saya tersebut.
MEA (Masyarak Ekonomi Asean) mempunya banyak pengaruh terhadap job seeker, ada beberapa pengaruh positif maupun pengaruh negatif tentunya. Dalam sisi positifnya beberapa diantaranya terdapat banyak kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja seperti saya dengan berbagai kebutuhan keahlian yang beraneka ragam tentunya kesempatan dalam memasuki dunia kerja lebih besar lagi, selain itu akan lebih mudah dan akan lebih banyak terdapat akses untuk pergi ke luar negri dalam rangka mencari pekerjaan karna dalam hal ini banyak tenaga kerja asing yang masuk kedalam Indonesia dan sebaliknya banyak masyarakat Indonesia yang dapat bekerja diluar negri bahkan tanpa hambatan.
Namun, disisi lain banyak juga hambatan yang akan ditemui oleh job seeker apa lagi yang masih fresh graduated seperti saya ini. Masalah yang paling utama dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) mengenai pendidikan, banyak masyarakat tidak bersekolah dengan berbagai alasan mulai dari faktor ekonomi, sosial dan lingkungannya. Hal ini menyebabkan mereka susah dalam memasuki masyarakat ekonomi asean. Selain itu, dalam bidang keahlian, karna tidak bersekolah maka  keahlian mereka sangat minim, jangankan yang tidak bersekolah, yang bersekolah saja kadang tidak memiliki keahlian yang mencukupi, memang benar kalau belajar bisa dilakukan dimana saja tidak hanya didaisalnya lam bangku sekolah namun ketika kita melamar pekerjaan tidak dipungkiri bahwa ijazah sangat berpengaruh terhadap pertimbangan diterima atau tidak. Selain itu bisa saja dalam hal pengalaman, seperti saya yang akan menjadi mahasiswa fresh graduated tidak memiliki banyak pengalam untuk bersaing dalam MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) hal ini akan menjadi hambatan yang sangat terasa kelak ketika saya memasuki dunia kerja.
Dalam menghadapi hambatan yang terjadi maka saya sebagai job seeker akan berusaha keras untuk dapat ikut masuk dalam MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Misalnya saja dengan belajar semaksimal mungkin, meneruskan pendidikan semampu saya, dan karna saya fresh graduated dan hanya punya sedikit pengalaman maka saya akan mengembangkan dalam bidang teori dan berlatih terus sehingga pengetahuan dan keahlian yang saya punya akan dapat bersaing dengan job seeker lain yang tentunya sudah berpengalaman.
Setelah saya menjadi job seeker tentu saya akan menjadi job creator, tidak menyenangkan menurut saya bekerja terus dibawah tekanan orang lain, akan lebih menyenangkan apabila kita dapat membuka lapangan kerja sendiri, dan dapat banyak memperkerjakan orang lain sehingga kita ikut andil dalam mengurangi angka penganggguran di Indonesia.
Dalam hal ini saya ingin menjadi job creator  sebagai wirausahawan dalam bidang kuliner. MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) akan memberikan banyak dmpak positif bagi kelangsungan hidup peruhasaan tentunya, misalnya saja akan lebih mudah dalam mengadakan ekspor impor barang yang kita jual agar dapat diterima dan dikenal tidak hanya di Indonesia namun dapat ke luar Indonesia dalam hal ini dalam lingkup negara – negara yang ikut bergabung dalam MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), dalam hal lain seoarang  job cretor akan lebih mempunyai banyak sekali peluang dalam mencari dan memilih tenaga kerja yang keahliannya dan pendidikannya sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Namun dengan masuknya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) untuk job creator juga mempunya banyak sekali hambatan misalnya saja dalam bagian penggajian, tentunya gaji yang diberikan kepada tenaga kerja harus setidaknya tidak berbeda jauh dnegan negara lain yang masuk dalam MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) sehingga tenaga kerja luar negri yang memiliki keahlian yang kita butuhkan akan mau mencari pekerjaan di Indonesia.

Sumber :
http://www.crmsindonesia.org/node/624

14/12/14

Tugas 4 : OPINI TENTANG JOB SEEKER DAN JOB CREATOR


JOB SEEKER VS JOB CREATOR


Job seeker adalah istilah atau label yang dikenakan oleh seseorang yang sedang mencari kerja. Seorang Job seeker biasanya memiliki rutinitas setiap harinya mencari-cari lowongan dan informasi peluang kerja.

Cara yang digunakan atau dilakukan oleh seorang Job seeker untuk mendapatkan informasi lowongan kerja :
  • Job seeker konvensional, yaitu dengan mencari informasi secara langsung ke perusahaan-perusahaan dengan mendatangi kantor mereka satu per satu, atau ada juga yang mendapatkan informasi dari kenalan yang dimilikinya atau mendapatkan informasi dari spanduk, pamphlet atau selebaran yang dilihatnya di tempat-tempat umum. Selain menggunakan cara konvensional.
  • Job seeker Modern, mencari atau mendapatkan informasi peluang kerja dari cara-cara yang modern. Ada yang mendapatkan informasi pekerjaan dari media social seperti page dan status di facebook, twitter, Linked In, situs-situs online, dll. Selain itu ada juga yang bergabung dengan komunitas atau pusat-pusat informasi lowongan pekerjaan via online yang disediakan oleh instansi-instansi tertentu atau yang independen, seperti career center yang dibuat oleh kampus, jobstreet, karir.com, dll.
Untuk saat ini, cara yang paling efektif bagi job seeker untuk mendapatkan informasi lowongan kerja adalah dengan cara-cara yang modern. Dengan cara modern, seorang job seeker dapat lebih efektif dan efisien dalam hal biaya dan waktu untuk mendapatkan dan melamar sebuah pekerjaan.

Melalui cara yang modern, seorang Job seeker tidak perlu menguras tenaga dan waktu yang berlebihan untuk memperoleh informasi, cukup dengan duduk di depan computer dan online, Jobseeker akan mendapatkan informasi yang sangat banyak.

Selain itu, Jobseeker dapat mengirimkan lamarannya hanya melalui email atau mengisi form by online yang telah disediakan oleh instansi/perusahaan terkait, sehingga hal ini dapat menyebabkan efisiensi biaya dan kertas.

Coba bandingkan jika seorang menggunakan cara konvensional, selain biaya yang tinggi, seorang Job seeker juga akan mengeluarkan tenaga dan waktu yang lebih besar. Bayangkan, untuk mendapatkan informasi, seorang job seeker konvensional harus berkeliling kota seharian atau masuk dari satu kantor perusahaan ke kantor perusahaan yang lain hanya untuk menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan atau tidak di perusahaan tersebut. Selain itu, seorang Job seeker konvensional harus mengeprint dan memfotocopy berkas-berkas lamaran yang cukup banyak dan menjadikannya berangkap-rangkap. Betapa tidak efisiennya hal tersebut.

Sekedar share bahwa saat ini perusahaan-perusahaan pun cenderung membuka atau menyebarkan informasi lowongan di perusahaan mereka melalui media social dan online. Karena perusahaan pun melihat dan mengakui bahwa cara tersebut merupakan cara yang efektif dan efisien. Efektif dan efisien karena selain biaya yang harus dikeluarkan untuk memasang informasi lowongan ini cukup murah, bahkan ada beberapa yang free, informasi lowongan yang dipasang oleh perusahaan di media online pun akan dilihat, dibaca dan diketahui oleh siapapun dan dimana pun. Sedangkan jika menggunakan metode konvensional, perusahaan akan mengeluarkan biaya yang cukup besar dan belum tentu efektif dan efisien serta mencapai sasaran.

Job creator adalah istilah atau label yang dikenakan oleh seseorang yang menciptakan lapangan kerja.

Perbedaan  seorang Job creator dan Job seeker antara lain :

Job cretor :
  • membuka lapangan pekerjaan
  •  mandiri + independen
  • bebas 
  • lebih kreatif dan dinamis
Job seeker :
  •  terikat waktu dan tugas
  •  gak independen
  •  terkungkung dan terkekang
  •  hanya jadi "pelayan" bagi atasan
Jadi menurut saya ketika kita bisa menjadi seorang Job creator itu akan lebih baik karna dapat membuka lapangan kerja bagi banyak orang, selain itu dalam lingkup yang lebih luas ketika banyak job creator maka akan mengurangi angka pengangguran di Indonesia.


REFERENSI :
·         http://mimpiwaktu.blogspot.com/2010/03/job-creator-or-job-seeker_22.html

31/10/14

TUGAS 3 : ANALISIS JURNAL TENTANG "FRAUD"

TUGAS : Analisis Jurnal "Pengaruh Pengendalian Internal Terhadap Pencegahan Fraud Pengadaan Barang Dan Implikasinya Pada Kinerja Keuangan (Studi pada Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta di Kota Bandung)

Ringkasan Jurnal :
Judul                         : Pengaruh Penerapan Pengendalian Internal Terhadap Pencegahan Fraud      
 Pengadaan Barang Dan Implikasinya Pada Kinerja Keuangan (Studi pada
 Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta di Kota Bandung)
Penulis                        : Eka Ariaty Arfah
Universitas                 : STIE Wira Bhakti Makasar
No Jurnal                   : Jurnal Investasi, Vol. 7 No.2 tahun 2011
Abstrak                      :
The aim of this study is to analysis the effect of internal control applying on good levying fraud prevention and its implication to the financial performance. Survey the sum of 105 responder covering hospital directors, financial director, accounting/finance chief, staff of general section, financial section and supply section on the public and private hospital in Bandung city. Data have been collected by questioner and hospital financial reports. The tools of statistic analysis using multiple regression. The result of this study indicates that there is positive effect of internal control applying on good levying fraud prevention and its implication to the financial performance. Its means that financial performance influenced by internal control applying on good levying fraud prevention and influenced residue by other factors are not included in this study model.
Keyword: Internal control, applying on goods levying fraud prevention, financial performance
Latar Belakang         :
Rumah sakit merupakan salah satu jaringan pelayanan kesehatan yang penting, sarat dengan tugas, beban, masalah dan harapan yang digantungkan kepadanya. Perkembangan jumlah rumah sakit di Indonesia, diikuti pula dengan perkembangan pola penyakit, perkembangan teknologi kedokteran dan kesehatan serta perkembangan harapan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit dan tenaga ahli yang berkualitas dalam bidang kesehatan. Kinerja rumah sakit dapat dilihat dari segi keuangan dan non
keuangan. Namun, menurut Ahmad (2000:21) indikator yang sering digunakan dalam
melakukan penilaian kinerja suatu perusahaan adalah dengan menggunakan pendekatan keuangan dimana informasinya di lihat dari laporan keuangan atau sumber keuangan lainnya. Intensitas pembicaraan mengenai fraud di rumah sakit semakin tinggi, sama halnya yang terjadi di sektor publik lainnya, utamanya sektor pemerintah yang menangani masalah pelayanan umum pada masyarakat. Sebenarnya, niat pemerintah mulai terlihat dan memperhatikan program untuk mengeliminasi fraud yang dilakukan oleh aparat pemerintahan. Hal ini diindikasikan dengan peningkatan peran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK); kejaksaaan, kepolisian, atau Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Namun sayangnya, hal ini seperti-nya belum menjadi semacam komitmen untuk dijalankan secara bersama secara konsisten di semua lini.
Tingginya intensitas praktik kecurangan, penipuan, dan penggelapan yang terjadi pada suatu institusi publik maupun privat, dengan segala modusnya, dari yang sederhana sampai yang sangat canggih dan rumit, seharusnya menyadarkan semua pihak untuk membangun komitmen terhadap penerapan tata kelola yang baik secara konsisten dan meluas pada semua lapisan karena tanpa adanya kesadaran dan komitmen akan mengakibatkan tidak tercapainya kinerja keuangan yang baik pada rumah sakit.
Kajian ICW tentang korupsi kesehatan dari 51 kasus korupsi kesehatan yang diusut sampai tahun 2008 dan menimbulkan kerugian negara mencapai 128 milyar hanya mampu menyeret regulator ditingkat lokal Kadinkes dan DPRD serta Direktur Rumah Sakit. Sedangkan korupsi ditingkat middle upper nol. Selain itu, kasus korupsi yang terungkap masih berputar dalam pengadaan barang dan jasa dengan modus markup sebanyak 22 kasus dengan kerugian negara sebesar Rp.103 Milyar. Hanya sebagian kecil korupsi dengan modus penyuapan terung-kap. Padahal modus penyuapan merupakan modus paling banyak dan potensial terjadi terutama korupsi ditingkat middle upper yang mungkin melibatkan pejabat Depkes, DPR, BPOM dan Badan pengawas kesehatan lainnya.
Komponen pengendalian internal antara lain: lingkungan pengendalian (control environment), penilaian risiko (risk assessment), aktivitas pengendalian (control activity), komunikasi dan informasi (information and Communication), dan pemantauan
(monitoring) (Intosai, 2004). Komponen pengendalian internal antara satu dengan lainnya saling berhubungan dan timbul dari proses manajemen. Pengendalian internal  bukanlah suatu kejadian tunggal, tetapi merupakan serang-kaian tindakan dan kegiatan yang meliputi operasi organisasi. Tindakan-tindakan ini melekat dalam metode yang digunakan manajemen untuk melaksanakan ope-rasi sehari-hari. Apabila salah satu komponen tidak dilaksanakan dengan me-madai, maka seluruh pengendalian intern tidak akan berjalan efektif (Ruslan, 2009).
Variabel Penelitian :
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lingkungan pengendalian (X1), Penilaian Risiko (X2), Kegiatan Pengendalian (X3), Informasi (X4) dan
Komunikasi serta Pemantauan (X5), Pencegahan Fraud Pengadaan Baru (Y)
Metodologi Penelitian :
·         Variabel-variabel yang akan diukur dalam penelitian ini terkait dengan sikap, pendapat dan persepsi maka tipe skala yang digunakan adalah skala Likert. Untuk setiap pertanyaan atau pernyataan dari setiap variabel diberi nilai skor dari yang terendah hinggi tertinggi secara berturut-turut diberikan nilai 1, 2, 3, 4, 5.
·         Untuk menguji pengaruh penerapan pengendalian internal terhadap pencegahan fraud dan implikasinya pada kinerja keuangan adalah menggunakan analisis regresi berganda (multiple regression analysis)
·         Pengujian kualitas data menggunakan Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
·         Pengujian Asumsi Klasik menggunakan Uji Normalitas, Uji Multikolinearitas, Uji Heterokedastisitas.
Hasil Penelitian :
Pengaruh penerapan lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan
pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan terhadap pencegahan
fraud pengadaan barang :
a.  Uji Simultan :
Untuk menguji hipotesis pertama mengenai pengaruh pada penerapan lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan secara simultan atau bersama-sama terhadap variabel tidak bebas (pencegahan fraud pengadaan barang) dilihat dari nilai deter-minasi yang diperoleh. Hasil perhitungan koefisien determinasi dalam analisis regresi yang dilakukan diperoleh lebih dari 0 yaitu sebesar 0,742. Koefisien determinasi yang diperoleh memperlihatkan adanya pengaruh positif pada pene-rapan lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan dalam menjelaskan pencegahan fraud pengada-an barang sebesar 74,2%, Sedangkan sisanya 25,8% yang dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini, misalnya saja variabel yang berkaitan dengan kualitas informasi akuntansi, internal audit, intellectual capital atau faktor internal organisasi.
b. Uji Parsial :
  • Untuk melihat pengaruh penerapan lingkungan pengendalian terhadap pencegahan fraud pengadaan barang digunakan hasil perhitungan koefisien regresi. Dari hasil perhitungan analisis regresi yang dilakukan diperoleh koefisien regresi lingkungan pengendalian (X1) sebesar 0,270. Koefisien regresi yang diperoleh tidak sama dengan 0 dan bertanda positif memperlihatkan bahwa pene-rapan lingkungan pengendalian berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud pengadaan barang. Artinya semakin baik lingkungan pengendalian akan mening-katkan pencegahan fraud pengadaan barang.
  •  Pengaruh penerapan penilaian risiko terhadap pencegahan fraud pengadaan barang. Untuk melihat pengaruh penerapan penilaian risiko terhadap pencegahan fraud pengadaan barang digunakan hasil perhitungan koefisien regresi. Dari hasil perhitungan analisis regresi yang dilakukan diperoleh koefisien regresi penilaian risiko (X2) sebesar 0,167. Koefisien regresi yang diperoleh tidak sama dengan 0 dan bertanda positif memperlihatkan bahwa penerapan penilaian risiko berpe-ngaruh positif terhadap pencegahan fraud pengadaan barang. Artinya semakin baik penilaian risiko akan meningkatkan pencegahan fraud pengadaan barang.
  • Pengaruh penerapan kegiatan pengendalian terhadap pencegahan fraud pengadaan barang. Untuk melihat pengaruh penerapan kegiatan pengendalian terhadap pencegahan fraud pengadaan barang digunakan hasil perhitungan koefisien regresi. Dari hasil perhitungan analisis regresi yang dilakukan diperoleh koefisien regresi kegiatan pe-ngendalian (X3) sebesar 0,030. Koefisien regresi yang diperoleh tidak sama dengan 0 dan bertanda positif memperlihatkan bahwa penerapan kegiatan pengendalian berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud pengadaan barang. Artinya semakin baik kegiatan pengendalian akan meningkatkan pencegahan fraud pengadaan barang.
  •  Pengaruh penerapan informasi dan komunikasi terhadap pencegahan fraud pengadaan barang. Untuk melihat pengaruh penerapan informasi dan komunikasi terhadap pencegahan fraud pengadaan barang digunakan hasil perhitungan koefisien regresi. Dari hasil perhitungan analisis regresi yang dilakukan diperoleh koefisien regresi informasi dan komunikasi (X4) sebesar 0,206. Koefisien regresi yang diperoleh tidak sama dengan 0 dan bertanda positif memperlihatkan bahwa penerapan informasi dan komunikasi berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud pengadaan barang. Artinya semakin baik informasi dan komunikasi akan meningkatkan pencegahan fraud pengadaan barang.
  • Pengaruh penerapan pemantauan terhadap pencegahan fraud pengadaan barang. Untuk melihat pengaruh penerapan pemantauan terhadap pencegahan fraud pengadaan barang digunakan hasil perhitungan koefisien regresi. Dari hasil perhitungan analisis regresi yang dilakukan diperoleh koefisien regresi serta pemantauan (X5) sebesar 0,294. Koefisien regresi yang diperoleh tidak sama dengan 0 dan bertanda positif memperlihatkan bahwa penerapan pemantauan berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud pengadaan barang. Artinya semakin baik pemantauan akan meningkatkan pencegahan fraud pengadaan barang.
Analisis Jurnal :
Terdapat pengaruh positif pada penerapan lingkungan pengendalian, penilaian resiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan baik secara terhadap pencegahan fraud pengadaan barang. Artinya semakin baik lingkungan pengendalian, semakin baik penilaian resiko, semakin baik kegiatan pengendalian, semakin baik informasi dan komunikasi akan meningkatkan pencegahan fraud. Dari hasil penelitian ini di temukan bahwa  pemantauan mempunyai pengaruh yang paling penting dalam pencegahan fraud  pengadaan barang.
Upaya mencegah fraud dapat dimulai dari pengendalian intern. untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kecurangan laporan keuangan pada perusahaan dan meminimalkan auditor eksternal untuk melegalkan bukti-bukti yang palsu pada laporan keuangan, pengimplementasian dari pengen-dalian intern setidaknya dapat mengurangi kolusi manajemen mengenai fraud.

Recent Posts

Recent comments